Menelusuri Nama Daerah Galuh dan Ciamis

Adapun kata “galuh” secara bahasa mengandung tiga makna. Pertama, kata galuh (bhs. Sanskerta; galu) berarti “permata yang paling baik”. Kedua, kata galuh (bhs. Sanskerta) berasal dari kata aga berarti “gunung” dan lwah berarti “bengawan, sungai, laut” (Danadibrata, 2009: 203). Ketiga, kata galuh sering dimaknai sebagai galeuh (bhs. Sunda) yang berarti “bagian di jero tangkal kai nu pang teuasna” (Danadibrata, 2009: 202). Arti-arti kata tersebut jelas sangat simbolis dan sarat muatan makna yang sangat dalam.

Selanjutnya, nama galuh pun mengacu pada nama kerajaan dan nama kabupaten. Nama ”galuh” muncul dalam panggung sejarah sejak berdirinya Kerajaan Galuh. Kerajaan ini didirikan oleh seorang tokoh Sunda bernama Wretikandayun pada awal abad ke-7 M. Wretikandayun semula berkuasa di daerah Kendan (Kendan termasuk wilayah kekuasaan Kerajaan Tarumanagara).

Sejak awal abad ke-7 pamor kerajaan itu makin memudar, terutama masa pemerintahan Raja Tarusbawa (raja Tarumanagara terakhir, 669-670 M.). Kondisi itu dimanfaatkan oleh Wretikandayun untuk melepaskan Kendan dari kekuasaan Tarumanagara. Upaya Wretikandayun berhasil tanpa menimbulkan konflik dengan penguasa Tarumanagara. Oleh karena Kendan tidak memadai sebagai pusat pemerintahan, maka Wretikandayun memindahkan pusat pemerintahannya ke daerah Karangkamulyan sekarang. Daerah itu dibangun menjadi pusat Kerajaan Galuh. Sementara itu, Tarusbawa mendirikan Kerajaan Sunda sebagai kelanjutan dari Kerajaan Tarumanagara. Kemudian terjadi perundingan antara Wretikandayun dengan Tarusbawa mengenai wilayah kekuasaan masing-masing. 

Perundingan sampai pada kesepakatan bahwa sungai Citarum menjadi batas wilayah kedua kerajaan. Daerah sebelah barat Citarum menjadi wilayah kekuasaan Kerajaan Sunda, dan daerah sebelah timur Citarum menjadi wilayah kekuasaan Kerajaan Galuh. Ketika Kerajaan Galuh diperintah oleh Sanjaya (723-732 M.), sang raja menjadi menantu Raja Sunda Tarusbawa. Hal itu menyebabkan terjadinya penggabungan kedua kerajaan menjadi Kerajaan Sunda-Galuh, sehingga Kerajaan Galuh makin berkembang. 

Pada abad ke-13, Kerajaan Galuh berpusat di Kawali. Kerajaan Galuh mencapai kejayaan terutama pada masa pemerintahan Maharaja Niskala Wastu Kancana (1371-1475 M.). Pada akhir abad ke-16 M. Kerajaan Mataram berupaya untuk menguasai Kerajaan Galuh. Tahun 1595 Kerajaan Galuh jatuh ke dalam kekuasaan Kerajaan Mataram. Pada awal pemerintahan Sultan Agung sebagai raja Mataram (1613), status Kerajaan Galuh diubah menjadi setingkat dengan kabupaten. Hal itu ditandai oleh pengangkatan Adipati Panaekan menjadi Wedana Mataram di Galuh.

Pada zaman penjajahan Belanda pangkat wedana setingkat dengan bupati. Dengan demikian, sejak awal abad ke-17 itulah, Galuh menjadi kabupaten, Kabupaten Galuh, dengan bupati pertama Adipati Panaekan. Kabupaten Galuh pernah mengalami perpindahan ibukota beberapa kali, yaitu dari Panaekan ke Gara Tengah (Cineam), kemudian pindah lagi ke Barunay (Imbanagara). Pemindahan ibukota Kabupaten Galuh dari Gara Tengah ke Barunay terjadi tanggal 12 Juni 1642 M. (14 Mulud tahun Hé). 

Pada awal abad ke-19 ibukota Kabupaten Galuh dipindahkan lagi ke Cibatu, kemudian ke Burung Diuk. Setelah kota Ciamis berdiri, ibu kota Kabupaten Galuh dipindahkan ke kota Ciamis (masa pemerintahan Bupati Wiradikusumah, 1815-1819). 

Kata Ciamis berasal dari ”ci” dan ”amis”. Kata “ci” singkatan dari cai yang berarti air. Kata “amis” punya dua arti. Pertama amis (bhs. Sunda) berarti manis (berkait dengan rasa). Kedua amis (bhs. Jawa) berarti anyir (berkait dengan aroma penciuman). Malah Danadibrata (2009: 19, 420) mengartikan kata “amis” sebagai “bau mabek, bau pisan” (bau sekali, sangat bau). Namun, Hardjasaputra (t.th.: 4) berpendapat bahwa kata ”amis” dalam Ciamis, bukan ”amis” dalam bahasa Sunda yang berarti rasa manis. Sumber tradisional yang memuat data Kerajaan Galuh menunjukkan bahwa ”amis” dalam nama Ciamis adalah ”amis” dalam bahasa Jawa yang berarti ”anyir” itu.

Sebutan ”anyir” itu berkaitan dengan tragedi berdarah. Setidaknya ada tiga momentum peristiwa berdarah yang berkait dengan sejarah (Sunda) Galuh. Pertama adalah peristiwa Perang Bubat (1357). Kedua, pada akhir abad ke-16 M. Kerajaan Mataram berupaya menguasai Kerajaan Galuh. Terjadilah konflik antara kedua belah pihak, sehingga di beberapa daerah Galuh terjadi tragedi “banjir darah”.  Tahun 1595 Kerajaan Galuh jatuh ke dalam kekuasaan Kerajaan Mataram. 

Ketiga, ketika Galuh jatuh ke dalam kekuasaan Kompeni (mulai akhir tahun 1705), terjadi lagi tragedi berdarah di Ciancang (Utama) tahun 1739 yang dikenal dengan sebutan ”Bedah Ciancang” (Hardjasaputra, t.th: 2). Dengan demikian, kata ”amis” dalam Ciamis lebih tertuju pada arti bau amis darah manusia, korban dalam tragedi. Katanya, sebutan ”amis” yang ditujukan pada darah manusia itu dilontarkan oleh utusan penguasa Mataram ketika mengontrol daerah Galuh tidak lama setelah di Galuh terjadi tragedi ”banjir darah”. Oleh karena itu, sebutan ”ciamis” pada awalnya lebih merupakan cemoohan dari pihak Mataram terhadap pihak Galuh.

BACA JUGA : Mengenal Kerajaan Galuh

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama